Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
  • Satgas Covid19 Kabupaten Polewali Mandar
blog-img-10

499 Tenaga Kesehatan RSUD Polewali Mandar Telah Divaksin, 30 Menit post vaksinasi Tidak Ditemukan Efek Samping Gejala Berat

Warta KominfoSP, Polewali Mandar – Sebanyak  499 tenaga kesehatan RSUD Polewali telah menjalani vaksinasi COVID-19 dan 30 menit setelah vaksinasi tidak ditemukan efek samping  gejala berat.

RSUD Polewali sebagai salah satu garda terdepan penanganan COVID-19 di Kabupaten Polewali Mandar, telah melaksanakan pemberian vaksin COVID-19 dosis I. Pemberian vaksin dosis I berlangsung selama 3 hari yaitu tanggal 5, 6 dan 8 Februari 2021. Sasaran vaksinasi sebanyak  645 orang dan yang mengikuti screening sebanyak  612 orang. Jumlah nakes yang telah berhasil menyelesaikan vaksinasi sebanyak 499 orang dan tidak ditemukan adanya efek samping gejala berat setelah 30 menit dilakukan pemberian vaksin. Sebanyak 87 nakes dilakukan penundaan serta 30  nakes tidak diberikan vaksin.

Dr. Anita , Direktur RSUD Polewali, menjelaskan pelaksanaaan vaksinasi nakes serta sejumlah alasan dilakukannya penundaan vaksin dan tidak diberikan vaksin

“Jumlah sasaran vaksinasi sebesar 645 orang, jumlah yang mengikuti screening sebanyak 201 orang pada hari pertama, 200 orang pada hari kedua dan 211 orang pada hari ketiga, jadi total yang mengikuti screening itu 612 orang. Jumlah penerima vaksin pada hari pertama 156 orang,  hari kedua 158 orang dan hari ketiga 185 orang, jadi total penerima vaksin untuk RSUD Polewali sebanyak 499 orang. Kemudian jumlah yang dilakukan penundaan vaksin itu pada hari pertama 37 orang, hari kedua 30 orang dan hari ketiga 20 orang jadi jumlahnya sebanyak 87 orang. Jumlah yang tidak diberikan vaksin  itu ada 30 orang” ujar dr. Anita.

“Adapun alasan penundaan vaksin untuk RSUD, penundaan dilakukan ketika pada saat dokter screening itu ada gejala yang didapatkan, hipertensi tekanan darah lebih atau sama dengan 140 per 90, kemudian ada riwayat DM, ada benjolan pada leher, ada yang prediksinya kemungkinan hamil karena belum haid. Kemudian untuk vaksin yang tidak diberikan sesuai screening tdak diberikan pada orang hamil, ibu menyusui, kemudian petugas yang pernah terinfeksi COVID ataupun yang sementara terinfeksi COVID, pasien hipertiroid, asma, jantung koroner dan program hamil” lanjut dr. Anita.

Direktur RSUD menyampaikan pula bahwa  terdapat 19 orang mengalami KIPI yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi  pada 30 menit pertama dengan kategori ringan. Selanjutnya terdapat 2 orang yang sedang dirawat karena mengalami gejala 6-8 jam post vaksinasi.

“Untuk KIPI kejadian post vaksinasi, itu ada 19 orang yang pulang dengan KIPI, artinya dia mengalami kejadian ikutan post vaksinasi. Gejala yang mereka alami itu pusing, mual, keram dan muntah. Kemudian untuk gejala berat setelah vaksinasi sesuai dengan juknis vaksinasi, alhamdulillah 30 menit pertama itu  tidak didapat gejala berat, gejala berat yang dimaksud itu Syok Anafilaktik. Selama kami di Rumah sakit melaksanakan program vaksinasi, kami menyiapkan  sesuai SOP tetap diobservasi untuk tahap awal screening itu dilakukan oleh Dokter Spesalis Penyakit dalam 2 orang kemudian Dokter Syaraf 1 orang. Tujuannya agar supaya hasil screening ini lebih memperdalam bahwa betul-betul petugas memang lolos untuk dilakukan vaksinasi. Jadi untuk kejadian post vaksinasi kami masih berada di gejala ringan. Observasi pun dilakukan oleh Dokter Anastesi dengan petugas observasi sebanyak 10 orang dan melihat gejala yang muncul 30 menit pertama setelah vaksinasi, kemudian diberikan juga kontak person yang bisa dihubungi ketika setelah di rumah masih ada gejala yang dirasakan. Rumah sakit sekarang merawat 2 orang karena gejala yang post vaksinasi gejala yang terjadi 6-8 jam post vaksinasi” kata dr. Anita.

Lebih lanjut direktur RSUD berpesan kepada penerima vaksin untuk menyampaikan informasi secara  jelas, benar dan tidak ditutupi kepada dokter atau petugas yang melaksanakan screening vaksinasi COVID19 untuk mencegah terjadinya gejala ikutan pascavaksinasi. Disampaikan pula, vaksinasi dilakukan pada penerima vaksin yang telah lolos proses screening.

“Saya berpesan, bahwa apabila kita akan melakukan vaksinasi, maka yang akan divaksin itu betul betul memberikan informasi yang jelas, tidak ada yang ditutup-tutupi kepada dokter atau petugas yang melakukan screening, karena di form screening itu ada 16 pertanyaan terkait riwayat penyakit yang diderita oleh orang yang akan divaksinasi, dan diharapkan yang diberikan informasi betul-betul akurat dan jangan ditutupi karena akan sangat bermasalah post vaksinasi itu ada gejala. Untuk screening hipertensi tekanan darah tidak ada masalah karena pasti diperiksa, tapi dari keterangan-keterangan yang diminta  itu mungkin yang kita harus jelas menyampaikan apa adanya dan yang betul-betul benar” kata dr. Anita.

“Vaksinasi merupakan program yang kita bisa mencegah dengan meningkatkan kekebalan tubuh, kami di RSUD Polewali ini, petugas dianjurkan untuk melakukan vaksinasi tetapi tidak diwajibkan , karena ketika pada saat screening, petugas tersebut tidak lolos screening maka vaksinasi tidak diberikan”terang dr. Anita.

 

Vaksinasi COVID-19 merupakan upaya kita bersama dalam penanganan pandemi COVID-19 yang menyeluruh dan terpadu untuk mengurangi transmisi atau penularan COVID-19, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19 serta mencapai kekebalan kelompok di masyarakat serta melindungi masyarakat dari COVID-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi.

Lindungi Diri, Lindungi Negeri, Kesehatan Pulih, Ekonomi Bangkit
Tetap patuhi protokol kesehatan 3M, Memakai masker dengan benar, Menjaga jarak dan hindari kerumunan serta Mencuci tangan pakai sabun pada air mengalir.

Tim Warta KominfoSP Polewali Mandar